Selasa, 20 Desember 2016

Fungsi Sekolah

Pendidikan merupakan hal penting bagi keutuhan masyarakat. Fungsinya, setidak-tidaknya, adalah menyalurkan nilai-nilai budaya yang terlembaga kepada anggota-anggota masyarakat. Dalam prosesnya, nilai-nilai disebarkan oleh masyarakat melalui pola-pola interaksi. Setiap anggota masyarakat yang baru berusaha mengamati dan menyerap pola-pola itu.
Banyak media yang berfungsi sebagai agen atau institusi sosialisasi budaya kepada para anggota masyarakat. Salah satunya adalah keluarga sebagai unit terkecil yang ada di dalam masyarakat.Orang tua merupakan agen sosialisasi pertama dan utama bagi seorang anak sebagai anggota baru masyarakat. Fungsi keluarga sangat penting. Seperti diharapkan oleh aliran fungsionalisme struktural, keluarga berfungsi memperkuat struktur masyarakat.
Selain itu, budaya juga disebarkan melalui institusi pendidikan yakni sekolah. Agen utama dalam proses sosialisasi ini adalah guru. Namun, perlu ditegaskan bahwa yang terakhir ini mempunyai fungsi-fungsi yang lebih spesifik di dalam masyarakat. Dengan kata lain, sekolah hanya ambil sedikit bagian dari fungsi-fungsi sosial.
Karena itu, tulisan ini berupaya (1) menguraikan fungsi-fungsi ini yang seharusnya dijalankan oleh sekolah, dan (2) dampak sekolah dalam kehidupan individu maupun masyarakat.
Fungsi Sekolah
Seperti disebutkan di atas, sekolah punya andil untuk menyebarkan nilai-nilai budaya. Namun dalam konteks ini, sekolah ambil sedikit bagian. Tujuan utamanya lebih ditekankan kepada bagaimana lembaga ini dapat meningkatkan pendidikan intelektual, yakni “mengisi otak” – meminjam bahasa Nasution – anggota-anggota masyarakatnya. Tugas ini lebih berorientasi menjawab kebutuhan kognitif manusia.
Nasution menyenarai beberapa fungsi sekolah yakni (i) mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan; (ii) memberikan keterampilan dasar; (iii) membuka kesempatan memperbaiki nasib; (iv) menyediakan tenaga pembangunan; (v) membantu memecahkan masalah-masalah sosial; (vi) mentransmisi kebudayaan; (vii) membentuk manusia yang sosial; dan (viii) fungsi-fungsi sekolah lainnya.
Fungsi-fungsi yang dipaparkan oleh Nasution di atas menunjukkan bahwa sekolah mempunyai peranan yang sangat penting di dalam masyarakat. Senarai-senarai di atas mencerminkan harapan-harapan masyarakat terhadap fungsi sekolah, baik fungsi pemenuhan kebutuhan tiap-tiap individu secara mikro, seperti harapan memperoleh pekerjaan yang layak, perbaikan nasib, keterampilan dasar, dan fungsi penopang keberadaan masyarakat secara makro, seperti tersedianya tenaga pembangunan, membantu memecahkan masalah-masalah sosial, transmisi budaya, dll.

Nasution lebih jauh menambahkan bahwa pendidikan berfungsi sebagai media “transmisi budaya” dan “agen perubahan”. Sebagai transmisi nilai-nilai budaya, pendidikan dimaksudkan mampu menyelaraskan perilaku dan sikap anggota individu dengan norma dan nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat. Pendidikan bersifat konservatif, karena berusaha mempertahankan status quo dan cenderung menghalangi perubahan di dalam masyarakat.

Sedangkan sebagai “agen perubahan”, pendidikan dimaksudkan sebagai alat untuk mengimbangi perubahan di dalam masyarakat. Anggota-anggota masyarakat, dengan pendidikan, diharapkan mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat.

Dampak Pendidikan

Pendidikan, sebagai bagian dari sosial secara keseluruhan, sangat dipengaruhi oleh struktur sosial yang berlaku. Keberadaannya diharapkan mampu menyumbang kemantapan struktur yang ada melalui indoktrinasi pendidikan  yang diterapkan di sekolah. Karena itu, sistem pendidikan – seperti yang diyakini Louis Althusser – tidak saja mengajarkan keahlian teknis, tetapi juga mengisi anak didik dengan ideologi-ideologi yang sesuai dengan ideologi penguasa.

Namun, konsekuensi pendidikan tidak selamanya sesuai dengan harapan struktur masyarakat yang ada. Alih-alih menguatkan dan mempertahankan status quo melalui sistem pendidikan yang terkontrol, justru yang terjadi adalah konsekuensi-konsekuensi yang tidak saja tidak bersesuaian tetapi bahkan mendekonstruksi atau merekonstruksi struktur masyarakat yang sudah berlaku.

Misalnya, sekolah di masa penjajahan Belanda yang diperuntukkan untuk masyarakat pribumi, bertujuan agar menguntungkan pihak kolonial, yakni dapat membantu pekerjaan mereka secara efektif. Namun justru yang terjadi sebaliknya. Semakin mereka memperoleh pendidikan tinggi, semakin tinggi pula kesadaran sosial mereka sehingga melahirkan gerakan-gerakan revolusi rakyat yang dimobilisasi oleh mereka.

Memakai analisa Robert K. Merton, bahwa tindakan tidak hanya mengakibatkan konsekuensi-konsekuensi manifest (konsekuensi yang diharapkan sebelumnya), melainkan juga menghasilkan konsekuensi-konsekuensi laten (yang tidak diharapkan/diduga sebelumnya).

Singkatnya, pendidikan yang dipengaruhi lingkungan sosial, pada akhirnya akan balik mempengaruhi lingkungan sosial tersebut. Sekali lagi hal ini menunjukkan, sebagaimana disebut di atas, bahwa pendidikan berfungsi sebagai “transmisi budaya”, di satu sisi, dan “transformasi sosial”, di sisi lain.

Artikel Terkait