Pendidikan merupakan hal penting bagi keutuhan masyarakat. Fungsinya,
setidak-tidaknya, adalah menyalurkan nilai-nilai budaya yang terlembaga
kepada anggota-anggota masyarakat. Dalam prosesnya, nilai-nilai
disebarkan oleh masyarakat melalui pola-pola interaksi. Setiap anggota
masyarakat yang baru berusaha mengamati dan menyerap pola-pola itu.
Banyak media yang berfungsi sebagai agen atau institusi sosialisasi
budaya kepada para anggota masyarakat. Salah satunya adalah keluarga
sebagai unit terkecil yang ada di dalam masyarakat.Orang tua merupakan
agen sosialisasi pertama dan utama bagi seorang anak sebagai anggota
baru masyarakat. Fungsi keluarga sangat penting. Seperti diharapkan oleh
aliran fungsionalisme struktural, keluarga berfungsi memperkuat
struktur masyarakat.
Selain itu, budaya juga disebarkan melalui institusi pendidikan yakni
sekolah. Agen utama dalam proses sosialisasi ini adalah guru. Namun,
perlu ditegaskan bahwa yang terakhir ini mempunyai fungsi-fungsi yang
lebih spesifik di dalam masyarakat. Dengan kata lain, sekolah hanya
ambil sedikit bagian dari fungsi-fungsi sosial.
Karena itu, tulisan ini berupaya (1) menguraikan fungsi-fungsi ini
yang seharusnya dijalankan oleh sekolah, dan (2) dampak sekolah dalam
kehidupan individu maupun masyarakat.
Fungsi Sekolah
Seperti disebutkan di atas, sekolah punya andil untuk menyebarkan
nilai-nilai budaya. Namun dalam konteks ini, sekolah ambil sedikit
bagian. Tujuan utamanya lebih ditekankan kepada bagaimana lembaga ini
dapat meningkatkan pendidikan intelektual, yakni “mengisi otak” –
meminjam bahasa Nasution – anggota-anggota masyarakatnya. Tugas ini
lebih berorientasi menjawab kebutuhan kognitif manusia.
Nasution menyenarai beberapa fungsi sekolah yakni (i) mempersiapkan
anak untuk suatu pekerjaan; (ii) memberikan keterampilan dasar; (iii)
membuka kesempatan memperbaiki nasib; (iv) menyediakan tenaga
pembangunan; (v) membantu memecahkan masalah-masalah sosial; (vi)
mentransmisi kebudayaan; (vii) membentuk manusia yang sosial; dan (viii)
fungsi-fungsi sekolah lainnya.
Fungsi-fungsi yang dipaparkan oleh Nasution di atas menunjukkan bahwa
sekolah mempunyai peranan yang sangat penting di dalam masyarakat.
Senarai-senarai di atas mencerminkan harapan-harapan masyarakat terhadap
fungsi sekolah, baik fungsi pemenuhan kebutuhan tiap-tiap individu
secara mikro, seperti harapan memperoleh pekerjaan yang layak, perbaikan
nasib, keterampilan dasar, dan fungsi penopang keberadaan masyarakat
secara makro, seperti tersedianya tenaga pembangunan, membantu
memecahkan masalah-masalah sosial, transmisi budaya, dll.
Nasution lebih jauh menambahkan bahwa pendidikan berfungsi sebagai
media “transmisi budaya” dan “agen perubahan”. Sebagai transmisi
nilai-nilai budaya, pendidikan dimaksudkan mampu menyelaraskan perilaku
dan sikap anggota individu dengan norma dan nilai-nilai yang berlaku di
dalam masyarakat. Pendidikan bersifat konservatif, karena berusaha
mempertahankan status quo dan cenderung menghalangi perubahan di dalam
masyarakat.
Sedangkan sebagai “agen perubahan”, pendidikan dimaksudkan sebagai
alat untuk mengimbangi perubahan di dalam masyarakat. Anggota-anggota
masyarakat, dengan pendidikan, diharapkan mampu beradaptasi dengan
perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat.
Dampak Pendidikan
Pendidikan, sebagai bagian dari sosial secara keseluruhan, sangat
dipengaruhi oleh struktur sosial yang berlaku. Keberadaannya diharapkan
mampu menyumbang kemantapan struktur yang ada melalui indoktrinasi
pendidikan yang diterapkan di sekolah. Karena itu, sistem pendidikan –
seperti yang diyakini Louis Althusser – tidak saja mengajarkan keahlian
teknis, tetapi juga mengisi anak didik dengan ideologi-ideologi yang
sesuai dengan ideologi penguasa.
Namun, konsekuensi pendidikan tidak selamanya sesuai dengan harapan
struktur masyarakat yang ada. Alih-alih menguatkan dan mempertahankan
status quo melalui sistem pendidikan yang terkontrol, justru yang
terjadi adalah konsekuensi-konsekuensi yang tidak saja tidak bersesuaian
tetapi bahkan mendekonstruksi atau merekonstruksi struktur masyarakat
yang sudah berlaku.
Misalnya, sekolah di masa penjajahan Belanda yang diperuntukkan untuk
masyarakat pribumi, bertujuan agar menguntungkan pihak kolonial, yakni
dapat membantu pekerjaan mereka secara efektif. Namun justru yang
terjadi sebaliknya. Semakin mereka memperoleh pendidikan tinggi, semakin
tinggi pula kesadaran sosial mereka sehingga melahirkan gerakan-gerakan
revolusi rakyat yang dimobilisasi oleh mereka.
Memakai analisa Robert K. Merton, bahwa tindakan tidak hanya
mengakibatkan konsekuensi-konsekuensi manifest (konsekuensi yang
diharapkan sebelumnya), melainkan juga menghasilkan
konsekuensi-konsekuensi laten (yang tidak diharapkan/diduga sebelumnya).
Singkatnya, pendidikan yang dipengaruhi lingkungan sosial, pada
akhirnya akan balik mempengaruhi lingkungan sosial tersebut. Sekali lagi
hal ini menunjukkan, sebagaimana disebut di atas, bahwa pendidikan
berfungsi sebagai “transmisi budaya”, di satu sisi, dan “transformasi
sosial”, di sisi lain.
adss
Selasa, 20 Desember 2016
Fungsi Sekolah
Artikel Terkait
Langganan:
Posting Komentar (Atom)